7 Juli 2026 - 07:18
Ketua STAI Sadra Jakarta: Ayatullah Khamenei Buktikan Kemuliaan Ilmu dan Kesyahidan Seorang Ulama

Sosok Ayatullah Sayid Ali Khamenei dinilai tidak hanya meninggalkan warisan kepemimpinan politik, tetapi juga teladan sebagai seorang ulama yang mengabdikan seluruh kehidupannya untuk ilmu pengetahuan dan perjuangan hingga akhir hayatnya.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Sosok Ayatullah Sayid Ali Khamenei dinilai tidak hanya meninggalkan warisan kepemimpinan politik, tetapi juga teladan sebagai seorang ulama yang mengabdikan seluruh kehidupannya untuk ilmu pengetahuan dan perjuangan hingga akhir hayatnya.

Pandangan tersebut disampaikan Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sadra Jakarta, Dr. Otong Sulaeman, M.Hum., saat menghadiri Konferensi Internasional "Imam Khamenei; Pemimpin Abadi Perlawanan" yang digelar di Teheran, Sabtu (4/7). Menurut Otong, memahami sosok Ayatullah Khamenei tidak dapat dilepaskan dari kedudukannya sebagai Wali Faqih, yaitu pemimpin yang tidak hanya memimpin negara, tetapi juga memikul amanah keagamaan untuk membimbing umat berdasarkan ajaran Islam.

"Imam Syahid Khamenei adalah seorang yang sepanjang hidupnya mengemban amanah sebagai Wali Faqih. Amanah itu bukan sekadar memimpin pemerintahan, tetapi juga membimbing masyarakat dengan ilmu, hikmah, dan tanggung jawab keagamaan," ujarnya. Ia kemudian mengutip sebuah hadis yang sangat terkenal dalam khazanah Islam. "Midadul ulama afdhalu min dima'isy syuhada", tinta para ulama lebih mulia daripada darah para syuhada. Menurutnya, hadis tersebut menemukan relevansinya dalam diri Ayatullah Khamenei. "Beliau menunjukkan kemuliaan ilmu melalui karya-karya, pemikiran, dan kepemimpinannya. Tetapi yang menarik, beliau tidak berhenti sebagai seorang ulama. Beliau juga menunjukkan dirinya sebagai seorang syahid. Ketika mengemban amanah kepemimpinan, beliau siap menghadapi segala risiko hingga akhirnya menutup kehidupannya dengan cara yang paling mulia, yaitu syahid," jelasnya.

Pelajaran bagi Indonesia

Otong menilai, kepemimpinan Ayatullah Khamenei juga menyimpan pelajaran penting bagi Indonesia. Menurutnya, penghormatan terhadap sosok Khamenei tidak hanya datang dari kalangan masyarakat Iran, tetapi juga dari sejumlah tokoh nasional Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa setelah wafatnya Ayatullah Khamenei, banyak tokoh Indonesia datang ke Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta untuk menyampaikan belasungkawa. Salah satunya adalah Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri.

"Dalam surat belasungkawanya, Ibu Megawati menuliskan bahwa beliau memiliki kenangan yang sangat kuat terhadap Imam Ali Khamenei," kata Otong. Kenangan itu, lanjutnya, berasal dari salah satu pertemuan Megawati dengan Ayatullah Khamenei saat berkunjung ke Iran. "Dalam pertemuan tersebut, Imam Khamenei menyampaikan bahwa beliau membaca, mempelajari, dan mengagumi pemikiran Bung Karno."

Bagi Otong, pernyataan tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi Megawati. "Bahkan Ibu Megawati menyimpulkan bahwa Imam Ali Khamenei adalah sosok yang menghidupkan kembali pemikiran-pemikiran Bung Karno di tingkat dunia." Karena itulah, menurut Otong, wafatnya Ayatullah Khamenei tidak hanya menjadi kehilangan bagi rakyat Iran, tetapi juga dirasakan oleh sejumlah tokoh dunia, termasuk di Indonesia. "Ibu Megawati menyampaikan rasa dukanya karena merasa kehilangan seorang pemimpin yang menurut beliau melanjutkan semangat perjuangan yang selama ini diperjuangkan oleh Bung Karno sebagai Proklamator Republik Indonesia," pungkasnya.

Your Comment

You are replying to: .
captcha